PRAKTIK BAIK - MELEJITKAN LITERASI GURU
Dari Praktik Baik Menjadi Karya Cipta: Melejitkan Literasi Guru
Oleh: Anita Carlyna, S.IP., M.Pd., Gr
Kegiatan Pembelajaran terbagi menjadi tiga bagian yaitu Intrakurikuler, Ekstrakurikuler dan Kokurikuler. Saat ini pemerintah menggalakkan keseimbangan di antara ketiganya, sehingga wakil kurikulum memutar otak untuk membuat jadwal belajar di kelas dan luar kelas agar mampu memberikan pembelajaran bermakna, menggembirakan, berkesadaran dan berpusat pada siswa.
Ada banyak ide dan gagasan dari para guru maupun masukan dari siswa itu sendiri berkaitan dengan kegiatan siswa terutama pada project kokurikuler. Project yang dilakukan bahkan bukan sekedar formalitas kegiatan namun dapat menggerakkan kesadaran siswa dan wali murid untuk ikut serta dalam membantu suksesnya project.
Namun semua project siswa tersebut di evaluasi dan diarsipkan berupa laporan penanggung jawab kepada kepala sekolah berbentuk laporan kegiatan. Laporan tersebut menumpuk manis di rak kantor yang mana akan dibuka kembali ketika mau mengecek siapa saja yang terlibat guna pembagian insentif saja.
Maka kebermanfaatan dari project tersebut terasa terputus begitu laporan dikumpulkan. Oleh karena itu, harus ada inovasi bagaimana keberhasilan suatu project ini bisa dilakukan oleh orang lain baik internal yayasan maupun di luar secara umum dalam dunia pendidikan. Sehingga muncul suatu gagasan, bahwa kita harus memanfaatkan website sekolah yang ada sebagai alat publikasi digital. Serta memanfaatkan aplikasi Rumah Pendidikan yang sudah dibakukan oleh kementerian pendidikan menjadi suatu aplikasi terpadu. Di Rumah Pendidikan ada 8 ruang, salah satunya Ruang GTK. Pada Ruang GTK diperuntukkan untuk diakses para guru, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan dengan menggunakan fitur bukti karya untuk mengunggah tulisan-tulisan dari laporan project sebagai praktik baik.
Selanjutnya tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena para guru menuliskan laporan project harus menggunakan metode menulis yang baik dan menarik agar para pembaca memahami dan bisa memodifikasi kegiatan di sekolahnya dengan versi masing-masing. Kita perlu suatu kiat agar para guru dapat melejitkan potensinya dibidang tulis menulis, sekaligus berpotensi melejitkan literasi para guru.
REALITAS SOSIAL DI SEKITAR KITA
Para guru bersemangat membuat suatu kegiatan yang berkaitan dengan mata pelajaran maupun dengan ekstrakurikuler siswa. Kolaborasi antar guru semakin tinggi apabila ada proyeksi perhitungan perihal uang lelah kegiatan. Salah satu syarat mendapatkan itu dengan mengumpulkan laporan kegiatan sebagai bukti bahwa kegiatan tersebut sudah dilaksanakan.
Namun tidak menafikan bahwa sebagian besar guru juga bergerak dan beraktivitas atas dasar loyalitas kerja. Bahwa dengan adanya uang lelah menjadi nilai tambah dari loyalitas tersebut. Kegiatan project banyak menuntut guru baik dari sisi waktu, tenaga, pikiran dan terkadang dana pribadi. Bahkan ketika sampai dirumahpun, pekerjaan tersebut masih terus dibawa dalam pikiran. Seperti sebuah ungkapan pepatah melayu “Makan tak kenyang, tidur tak lena, mandi tak basah”, ungkapan inilah yang menggambarkan situasi guru jika projectnya belum kelar.
Setelah project selesai, selesai pula kebermanfaatan dari kegiatan tersebut. Inilah yang menjadi sebuah ironi, bahwasanya kita bisa mendapatkan terus manfaat seperti pahala yang mengalir walau projectnya selesai.
Rasulullah SAW bersabda: "Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak sholeh yang berdoa baginya." (HR. Imam Muslim)
Berdasarkan hadist diatas, kita bisa meraih amal yang tak terputus salah satunya dengan ilmu yang bermanfaat. Project yang selesai, masih dapat bermanfaat jika orang-orang dapat membaca dan memodifikasi project tersebut sesuai kebutuhan sekolahnya. Itulah yang disebut publikasi, dalam hal ini kita dapat mempublikasikan hasil laporan project yang berhasil kita lakukan ke dalam website sekolah ataupun aplikasi Rumah Pendidikan yang menampung bukti karya praktik baik guru pada menu Ruang GTK. Selain publikasi digital, kitapun bisa menerbitkan hasil tulisan tersebut kedalam bentuk cetak.
MENYEIMBANGKAN TUGAS ADMINISTRATIF DENGAN KEGIATAN MENULIS
Tantangan utama dalam melatih budaya menulis guru saat ini yaitu separuh jam kerja guru dihabiskan untuk mengajar dan ditambah kerja dokumen administratif guru seperti modul, rekap nilai hingga penulisan laporan perkembangan siswa. Hal ini menguras tenaga dan menjadi kelelahan berpikir bagi guru.
Interaksi yang terjadi antara guru dengan siswa, rekan sejawat, wali murid ataupun masyarakat sekitar sangatlah menguras energi dan mental guru tersebut. Sehingga untuk memulai menulis atau mengetik draft sudah tidak menjadi fokus di sekolah. Adapun yang terjadi, yang memang berniat menulis mereka melakukannya di malam hari ataupun di sela waktu weekend.
Adapun waktu luang guru, dimana setiap guru memiliki 2-4 jam waktu luang dalam satu pekan. Persepsi menggunakan waktu luang untuk produktif menulis, nyatanya menjadi mitos belaka. Waktu luang guru digunakan untuk memberikan bimbingan intensif kepada siswanya, jika guru tersebut mengampu tugas sebagai wali kelas. Ditambah tugas luar guru jika ada yang mengikuti MGMP, dimana waktu yang digunakan untuk berkumpul membahas suatu persoalan pada mata pelajarannya. Sehingga kesempatan menulis menjadi semakin sempit dan tidak terjangkau, apabila manajemen waktu guru tidak terlalu baik.
LANGKAH NYATA MELEJITKAN LITERASI GURU
Penguatan meningkatkan literasi guru ini dimulai dengan merombak mindset guru. Dengan bekerjasama dengan penulis profesional dibidangnya, untuk memberikan pencerahan bahwa menulis itu mudah. Menulis itu bisa dilakukan dengan meluangkan waktu 10-15 menit setiap harinya secara konsisten. Para guru mendapatkan tips dan trik cara menulis jitu dengan waktu yang singkat.
Tahap awal ini membutuhkan hati yang lapang, pikiran yang terbuka dan sebisa mungkin menghindari tekanan. Walau tujuan dari meluruskan mindset guru adalah memberikan tekanan bahwa guru harus bisa membagi waktunya secara profesional. Namun tekanan ini diberikan secara halus, agar guru mampu memikul tugas ini dengan bahagia dan normal seperti tiada beban. Dengan membuka mindset, bahwa sejatinya para guru sudah melakukan kegiatan menulis ini dengan membuat laporan kegiatan, namun tulisan tersebut hanya butuh sedikit sentuhan untuk mengubahnya menjadi suatu karya tulis.
Sentuhan itulah yang akan kita dampingi dengan meminta bantuan penulis profesional untuk turut serta mengawal perkembangan tulisan guru. Setelah mengubah mindset, para guru akan dikumpulkan jadi satu dalam suatu grup Whatsapp yang dimana tutor juga tergabung untuk memantau dan memberikan masukan secara langsung pada tulisan yang mereka kumpulkan.
Guru menjadi produktif di sela-sela waktu istirahat atau saat pergantian jam pelajaran. Pada waktu istirahat tersebut, mereka berkumpul di ruang rapat untuk berbagi praktik baik yang mereka lakukan untuk kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan. Dalam pertukaran informasi yang mereka dapatkan, setidaknya menambah diksi yang akan mereka peroleh dalam penulisan.
PERUBAHAN MINDSET GURU DARI SEKEDAR PENGAJAR MENJADI GURU PENELITI DAN PENULIS
Hasil nyata dari perubahan mindset guru yang sekedar menjalankan aktivitas dengan menerima insentif kegiatan menjadi guru yang bisa menulis sekaligus meneliti. Hal ini merupakan fondasi utama transformasi profesionalisme guru. Transisi ini bukan sekedar menambah beban kerja guru, melainkan mengubah cara pandang guru terhadap siswa, kelas dan pengalamannya sendiri.
Kelas menjadi laboratorium hidup untuk menguji dan mengidentifikasi fenomena belajar siswa. Menganggap masalah siswa dan kelas menjadi sebuah basis data serta bahan riset untuk aksi-aksi berikutnya. Pengalaman ini menjadi aset berharga yang dimana terus dievaluasi sebelum dan sesudah dengan pencatatan yang rapi dan terpublikasikan.
Setiap guru memiliki catatan pribadi untuk menuliskan satu dua kalimat yang mereka temui di setiap pertemuan dengan siswa. Hal ini adalah benih dari tradisi dari seorang peneliti dan penulis. Output kerja guru bukan hanya ketercapaian nilai siswa di lembar kertas akhir semester namun menghasilkan pengetahuan baru berupa karya cipta yang bermanfaat bagi semua kalangan khususnya dalam dunia pendidikan.