0853-7897-4396

PRAKTIK BAIK - "Pemanfaatan Limbah Kulit Buah sebagai Bahan Dasar  Eco-Enzyme"

Admin Utama
•
Jumat, 02 Oktober 2026 - 11:37 WIB
•
23 kali dibaca
PRAKTIK BAIK - "Pemanfaatan Limbah Kulit Buah sebagai Bahan Dasar  Eco-Enzyme"

"Pemanfaatan Limbah Kulit Buah sebagai Bahan Dasar 

Eco-EnzymE : Upaya Penumbuhan Kesadaran Ekologis Berbasis Pembelajaran IPA Kontekstual"

By. Endang Sriwahyuni, S.Si., Gr

Guru IPA SMPS IT Ishlahul Ummah Prabumulih

Latar Belakang

SMPIT Ishlahul Ummah mempunyai kegiatan NGOPI (Ngobrol Perkara Iman) muatan lokal wajib jaringan islam terpadu setiap hari Jum’at. Kegiatan ini sebagai wadah diskusi dan muahasabah diri antara guru dan peserta didik. Biasanya, momen kebersamaan ini semakin akrab dengan sajian buah-buahan segar atau buah party. Namun dibalik kegiatan ini, ada salah satu guru memisahkan sampah kulit buah dengan sampah plastik dan beberapa kelompok yang meletakkan saja di dalam kotak sampah tanpa memisahkannya. Setiap selesai kegiatan buah party, tempat sampah di sudut ruangan di penuhi tumpukkkan kulit buah seperti kulit jeruk, nanas, papaya, buah naga, dan mangga.

Saat masuk ke kelas IX, sebagai guru IPA mulai menjelaskan materi Teknologi Ramah Lingkungan. Selama ini materi tersebut hanya di ajarkan sebatas teori tanpa adanya praktik secara nyata sehingga peserta didik menganggap materi ini tidak terkait dengan kehidupan sehari-hari. Disinilah ide saya muncul, melihat permasalahan tumpukkan sampah setelah kegiatan buah party. Mengapa tidak saya hubungan saja kegiatan NGOPI dengan mapel IPA karena tumpukkan limbah kulit buah sebagai bahan dasar praktik teknologi ramah lingkungan secara langsung yaitu dengan mengelolahnya sebagai Eco-enzyme yang dapat bermanfaat bagi lingkungan sekitar khususnya di sekolah.

Aksi Nyata

  1. Diskusi dan Pengenalan Eco-Enzyme


Kegiatan pembelajaran diawali dengan membawa sisa kulit buah hasil dari kegiatan NGOPI ke dalam kelas. Penggunaan media yang nyata bertujuan untuk mengembangkan apresepsi dan mengintegrasikan materi IPA dengan kehidupan sehari-hari. Dari media tersebut, saya menyampaikan pertanyaan pemantik kepada peserta diidk untuk bernalar kritis dan berkesadaran diri. 

”Jika kulit buah di biarkan begitu saja didalam kotak sampah, apa yang akan terjadi pada lingkungan kita?” “Apakah limbah kulit buah bisa di manfaatkan atau hanya sekedar sebagai limbah rumah tangga saja?

Peserta didik merespon secara aktif tentang permasalahan tersebut antara lain pemandangan yang kotor, timbulnya bauk menyengat, serta banyaknya lalat. Tetapi ada satu murid merespon bahwa limba kulit buah dapat di manfaatkan sebagai pupuk. Banyaknya respon yang menarik saya masukkan ke dalam materi tekonologi ramah lingkungan yang akan di pelajari hari ini melalui proses fermentasi menggunakan limbah kulit buat sebagai bahan dasar Eco-Enzyme. Saya menjelaskan tentang pembuatan Eco-Enzym dengan prinsip fermentasi. Peserta diidk diajarkan perbandingan pembuat Eco-Enzim dengan rasio 1:3:1.

  1. Persiapan Bahan
  2. Peserta didik dibagi menjadi 5 kelompok terdiri dari 4-5 orang
  3. Setiap kelompok mengumpulkan sampah kulit buah segar sisa kegiatan NGOPI di sekolah dan diperbolehkan menambahkannya dengan sisa kulit buah dari rumah
  4. Kulit buah dicuci bersih dengan air mengalir untuk menghilangkan sisa bumbu atau kotoran, lalu dipotong kecil-kecil agar proses penguraian mikroba berlangsung cepat

Tabel Bahan Pembuatan Eco-Enzyme (Galon/10 Liter)

Bahan Yang digunakanRasio PerbandinganKebutuhan Bahan
Gula Merah11 kg
Limbah Kulit Buah33 kg
Air110 liter


  1. Proses pencampuran dan pemeliharaan Fermentasi (Bulan ke-1 s.d Bulan Ke-3)

  1. Siapkan bahan-bahan seperti air, limbah kulit buah, gula merah, dan air bersih.
  2. Larutkan gula merah yang sudah haluskan ke dalam galon plastik.
  3. Masukkan potongan kulit buah yang sudah bersih kedalam wadah lalu aduk perlahan dan tutup wadah dengan balon
  4. Tempelkan label nama kelompok, tanggal pembuatan dan tanggal perkiraan panen (90 hari/3 bulan)
  5. Simpan di sudut ruang yang terlindung dari sinar matahari atau suhu ruang
  6. Setiap pekan peserta didik melihat proses fermentasi, jika tutup balon pecah maka di Ganti dengan yang baru agar tidak terjadi kontaminasi dengan bakteri atau udara luar.d
  7. Pemanenan, Penyaringan, dan Pengemasan

  1. Setelah 90 hari, cairan disaring menggunakan kain bersih hingga terpisah dari ampasnya
  2. Cairan Eco-Enzyme beraroma asam khas fermentasi dan warna coklat
  3. Siapkan botol berukuran sedang untuk pengemasan Eco-Enzyme
  4. Cairan Eco-Enzyme dimasukkan kedalam botol dan di peroleh sebanyak 60 botol

Refleksi

Dari rangkaian praktik baik, ada beberapa Pelajaran yang kami dapatkan sebagai bahan evaluasi dan perbaikan pembelajaran ke depan;

  1. Hal Positif yang Berhasil dilakukan
  2. Peserta didik menyadari bahwa Pelajaran IPA bukan hanya sebuah teori tetapi dapat di aplikasikan dalam kehidupan nyata untuk mengatasi limbah yang ada di sekitar lingkungan kita.
  3. Peserta didik mulai ada kesadaran bahwa limbah kulit buah dapat dijadikan cairan pembersih lantai, pupuk alami, dan sabun.
  4. Peserta didik mampu bekerjasama menjaga proses fermentasi limbah kulit buah selama 3 bulan dengan penuh kesabaran dan pemahaman kritis.
  5. Tantangan dan Rencana Perbaikan
  6. Kerusakan pada penutup wadah (balon pecah) selama masa libur menyebabkan paparan udara luar tidak terkontrol sehingga terjadinya kontaminasi mikroorganisme ditandai meunculnya jamur dan pembusukan pada cairan di salah satu wadah.
  7. Guru dan peserta didik harus kerjasama dalam memelihara wadah selama 3 bulan serta menyiapkan lembar kontrol.
  8. Pencucian kulit limbah harus bersih dari kotoran-kotoran limbah lain.

Hasil

  1. Aksi nyata memberikan hasil yang sangat bermanfaat bagi lingkungan sekolah yaitu;
  2. Cairan pembersih alami: guru dan peserta didik memanen puluhan botol Eco-enzyme yang langsung digunakan untuk menyiram tanaman.
  3. Sabun Eco-Enzym: cairan Eco-enzyme diolah menjadi sabun pencuci
  4.  piring alami dan sudah di pasarkan ke walli murid.
  5. Vidio Edukasi: media SMPIT IT mempublikasikan hasil karya guru dan peserta didik di tiktok (https://vt.tiktok.com/ZSVg4kqRh/)

Dampak

Perubahan positif yang terasa setelah kegiatan ini meliputi

  1. Peserta didik

Peserta didik mulai memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan khsusunya di sekolah. Selain itu, tidak lagi menganggap sampah sebagai barang yang kotor melainkan limbah yang dapat bermanfaat untuk lingkungan sekitar.

  1. Guru

Aktivitas ini berdampak pada pembentukan pembiasaan dalam memilah dan memanfaatkan limbah kulit buah sebagai bahan baku berguna

  1. Wali Murid

Aktivitas ini memberikan dampak positif bagi orang tua peserta didik. Wali murid memberikan apresiasi dan dan tanggapan yang baik tentang pemanfaatan limbah kulit buah menjadi produk sabun Eco-enyzme, sekaligus merasa bangga terhadap kreativitas dan kepedulian lingkungan yang ditunjukkan oleh anak mereka.


Bagikan Berita Ini: